Total Tayangan Halaman

Rabu, 20 Oktober 2010

Mahasiswi Akper Buton Kesurupan "Berjamaah"


BAUBAU-Sedikitnya empat mahasiswi tingkat I Akademi Keperawatan (Akper) Kabupaten Buton kesurupan saat hendak mengikuti perkuliahan, Selasa malam (19/10). Sejumlah mahasiswa itu berteriak histeris menyebut nama misterius dan meminta pulang ke suatu tempat.
Amatan Ozzon Radio, keempat mahasiswi kesurupan itu ditangani oleh sejumlah paranormal dan ustaz. Namun hingga berjam-jam dan telah dibacakan ayat suci Al Quran, roh yang merasuki sejumlah mahasiswi itu enggan keluar.
Menurut keterangan dari sejumlah mahasiswi, kerasukan dimulai ketika keempat mahasiswi yakni Asty dan beberapa rekannya sedang berada di salah satu ruang kuliah menunggu jam kuliah Ilmu Gizi. Merasa ada sesuatu yang aneh di ruangan itu, keempat mahasiswi itu berhamburan menuju ruang administrasi.
"Asty yang pertama kali kemasukan," ungkap salah seorang mahasiswi
Idrianto Faisal, ustadz yang terlibat mengobati empat mahasiswi kerasukan itu dihubungi sejumlah mahasiswi Akper Butonn ketika sedang shalat Isya. Menurut dia, sejumlah mahasiswi itu kerasukan akibat pikiran kosong atau termenung. Menurut keterangannya, keempat mahasiswi itu kemasukan secara bergantian.
Sempat terjadi pengusiran kepada sejumlah wartawan pada peristiwa itu, namun tak sampai terjadi perkelahian.

Selasa, 12 Oktober 2010

Kendari Ekspres akan Lapor Lurah Lamangga ke Polda


BAUBAU-Pihak Kendari Ekspress akan melaporkan dugaan pelecehan yang dilakukan oleh oknum Lurah Lamangga, Ahmad M melalui akun jejaring sosial face book (fb). Informasi yang diperoleh dari wartawan Kendari Ekspres, Gunardi, laporan tersebut akan dilakukan Pimpinan Redaksi, Mahdar.
Terkait kasus pelecehan itu, Gunardi sudah berkoordinasi dengan Pimpinan Redaksi dan sejumlah redaktur Kendari Ekspress. Informasi yang dihimpun media ini, akun yang disebarkan Ahmad M terlalu kasar dan menghina koran milik Jawa Pos Group itu.
"Belum dipastikan kapan, tapi dalam waktu dekat ini. Pimrednya sendiri yang akan lapor ke Polda," jelas Gunardi.
Gunardi mengaku sudah bertemu dengan Ahmad M di salah satu warnet di Kota Baubau, namun belum ada pembicaraan penyelesaian. Belum ada informasi Kendari Ekspress akan menempuh jalur damai. "Untuk saat ini kita akan tempuh jalur hukum," ujarnya.(***)

Kuat Dugaan Azan Dibunuh


BAUBAU-Kapolres Baubau AKBP Daniel Adityajaya SIk kepada media ini mengatakan kuat dugaan almarhum Azam Syah Daud (25) tewas dibunuh. Untuk mengungkap siapa dalang di balik itu, kepolisian telah membentuk tim khusus beranggotakan 15 personil dari Polres Baubau dan Polsek Wolio.
Melihat kondisi luka sobek pada leher dan luka lainnya di kepala, menandakan kalau korban dibunuh. "Diduga kuat korban tewas karena dibunuh," ungkap Daniel kepada sejumlah wartawan, (12/10) kemarin.
Bagai teka-teki, sampai-sampai pihak kepolisian harus membentuk tim khusus untuk mengungkap misteri di balik kematian Azan. Tim tersebut telah disiapkan untuk mengorek informasi dari berbagai komponen yang dianggap mempunyai kaitan dengan insiden berdarah tersebut.
Kapolres tidak menutup diri untuk menerima informasi penting dari masyarakat untuk menguak kematian Azan ke permukaan. "Masyarakat tidak usah ragu untuk berbagi dengan polisi, kita akan jaga kerahasiaannya," katanya.(dna)

Senin, 11 Oktober 2010

Lurah Lamangga Akui Serang Kendari Ekspress Melalui FB


BAUBAU-Lurah Lamangga, Ahmad M mengakui kalau dirinya menulis status kasar yang ditujukan kepada Kendari Ekspress media lokal milik Jawa Pos Group. Hal itu menurut dia, dilakukan atas kekesalannya pada media itu yang tidak mau merubah dan meminta maaf telah mengeluarkan judul "Pesta Miras, Alumni IPDN Tewas Mengenaskan".
Kata Ahmad, judul yang melibatkan nama IPDN tidak sesuai dengan esensi berita yang ingin disampaikan. Justru dia melihat itu sebagai sebuah pelecehan kepada institusi lain. "Beritanya kan soal kematian Azan, tapi kok nama IPDN dibawa-bawa," katanya kesal.
Pada dua kondisi itu, Ahmad melihat Kendari Ekspres dan dirinya harus sama-sama minta maaf karena sama-sama sakit menerima kalimat yang kurang enak dan terlanjur dipublikasikan. Dia mengingatkan dalam kasus tersebut dia melelaskan diri jabatannya sebagai lurah. "Nama akun saya Ahmad Saja, saya tidak pernah menyebut status saya lurah dalam diskusi di fb itu," katanya.
Meski demikian dia masih sangat kooperatif jika dia dan Kendari Ekspress bisa menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Kata dia, status keras pada akun fb miliknya sebagai ungkapan kekecewaannya. Makanya kini dia telah menghapus akun tersebut. "Saya sudah hapus akun tersebut, karena itu hanya sebuah ungkapan kekesalan saja," katanya.
Akun tersebut berbunyi "Koran Kendari Express contoh media tidak mendidik, goblok amatiran sangat tidak profesional".(***)

Minggu, 10 Oktober 2010

Lurah Lamangga Lecehkan Media Melalui FB

BAUBAU-SULAWESI TENGGARA--Lurah Lamangga mengeluarkan statemen melecehkan salah satu media lokal milik Jawa Pos Group dalam akun jejaring sosial face book (fb) miliknya, Jumat malam (8/10). Sedikitnya terdapat 46 komentar pada akun fb bernama "Ahamad Saja" itu.
Bahkan pada salah satu komentarnya menyebut pimred salah satu media yang dilecehkannya itu goblok. Status keras itu mendapat berbagai tanggapan dari sejumlah teman FB-nya.
Status tersebut dimulai dengan kata melecehkan yang berbunyi "contoh media tidak mendidik, goblok, amatiran dan sangat tidak profesional". Masih ada lagi, bunyinya seperti ini "Tadi saya ketemu wartawannya, goblok pimrednya, wartawan gitu kok dipelihara".
Salah satu teman diskusinya, Atika Zain (nama akun fb, red) mengingatkan Ahmad untuk tidak melanjutkan komentar itu. Malah Atika menganjurkan untuk menghapus status penghinaan itu dari beranda atau dinding fb-nya, namun dia tidak menggubris dan siap dituntut secara hukum jika media yang disebut-sebutnya goblok itu menuntut padanya.
Teman fb lainnya yang terlibat diskusi dalam status itu, Ira Muhsin, meminta Lurah Lamangga untuk menanggapi konten berita yang dirilis salah satu media yang menurutnya tidak beretika itu secara cerdas (bijaksana, red). "Otot ketemu otot malah tidak ada penyelesaian," tulis Ira.
Ahmad juga menuding oknum yang menjadi salah satu sumber berita media yang disebutnya goblok itu sebagai orang yang dicurigai dalam kasus terbunuhnya Azan Syah Daud.(***)

Sabtu, 09 Oktober 2010

Polisi Gelar Identifikasi TKP Terbunuhnya Azan

BAUBAU-Aparat Polsek Wolio, Polres Baubau, dan Reskrim Polda Sultra melakukan identifikasi atau olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Jl Poros Betoambari, Sabtu (09/10). Pada olah TKP itu, digambarkan tubuh almarhum Azan Syah Daud terbaring satu meter dari taman jalan dengan kepala membujur ke barat.

Dari bagian kepala korban digambarkan mengalir darah ke tepi jalan. Terdapat sendal di bagian kiri kepalanya dan sendal lainnya di bagian kaki. Sementara handpone merek nokia miliknya tergeletak beberapa senti dari tubuhnya.
Sekitar 1,5 meter dari badan jalan, terdapat dua buah balok sepanjang kurang lebih 50 cm. Terlihat aparat kepolisian mengukur jarak jenazah korban ke taman jalan dan tiang listrik. Di tempat itu juga aparat mengambil sampel tanah yang terlumuri darah. Saat identifikasi itu, jalan poros Betoambari sedikit macet, perhatian warga beralih dan memadati area itu.
Kapolres Baubau, AKBP Daniel Adityajaya SIk, mengatakan dalam identifikasi itu, pihaknya dibeck up reskrim Polda Sultra. "Itu asistensi. Dan polres selalu mendapat beck up Polda," kata Mantan Kapolres Buton ini.
Kapolres Baubau juga mengakui terdapat tanda-tanda kekerasan pada jenazah almarhum Azan Syah Daud. Di antaranya berupa luka di bagian kepala dan leher. "Kasus itu masih tahap penyelidikan dan masih dikembangkan," kata pria dengan dua bunga di pundak ini.
Kapolres menegaskan pihak kepolisian akan sungguh-sungguh mengungkap perkara tersebut. Kapolres juga siap berkoordinasi dengan keluarga maupun masyarakat lainnya yang memiliki keterangan yang bisa mempermudah proses penyelidikan.
Olah TKP itu dipimpin Kapolsek Wolio, AKP Mustafa M. Sedangkan dari Reskrim Polda Sultra yakni AKP Kasmudin.(*)

Jumat, 08 Oktober 2010

SRMI Tetap Advokasi Masyarakat Talaga

BAUBAU-Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) yang tergabung dalam Badan Kerjasama Masyarakat (BKM) Talaga akan kembali turun ke Talaga Raya meminta PT AMI membayar gantirugi tanah milik masyarakat. Namun kali ini SRMI akan lebih berhati-hati dalam beraksi agar tidak tersusupi.
"Kami akan turun dua minggu depan. Sebagai langkah awal kami akan melakukan investigassi mendalam," ungkap Ari aktivis SRMI.
Menurut dia, PT Ami sebelumnya telah bersepakat dengan masyarakat untuk membayar ganti rugi. Namun Pemerintah Kabupaten Buton tidak menginginkan pembayaran itu kepada masyarakat. Padahal masyarakat mengalami banyak kerugian termasuk kehilangan lapangan pekerjaan sebagai petani dan pembudidaya agar-agar.
Salah seorang warga Talaga, La Nita yang sebelumnya bekerja sebagai pembudidaya agar-agar terpaksa beralih pekerjaan sebagai pencari batu karena agar-agar tidak bisa berkembang sejak keberadaan PT AMI. "Sejak ada perusahaan itu agar-agar tidak tumbuh," kata La Nita, ditemui usai menyaksikan sidang vonis kasus Talaga Raya (Jumat 08/10).
Padahal bertani agar-agar sangat menguntungkan. Dalam sebulan La Nita biasa menghasilkan Rp 7 juta. Kata dia, sedikitnya terdapat kurang lebih 100 petani agar-agar di Talaga. Kini semua beralih profesi karena agar-agar tidak bisa berkembang.
Warga lainnya pun mengaku tidak bisa berkebun lagi karena sudah tidak punya lahan.

Warga Wakatobi Minta Penjelasan Polisi Soal Terbunuhnya Azan

BAUBAU-Ratusan warga Wakatobi mendatangi Mapolsek Wolio usai pemakaman jenazah Azan Syah Daud, Jumat (08/10). Sejumlah warga tersebut ingin mengetahui langsung dari polisi sejauh mana proses penanganannya.
Sesepuh keluarga Wakatobi, La Uda meminta kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus terbunuhnya almarhum Azan yang tewas tidak wajar di Jl Poros Betoambari, Kamis (07/10) lalu. Menurut hasil penilaian setelah berkomunikasi dengan Kapolsek Wolio, AKP Mustafa M, La Uda dan masyarakat masih menilai normal kalau pihak kepolisian belum menemui titik terang, mengingat kasusnya baru dua hari.
"Kami harap pihak kepolisian secepat mungkin memberikan kejelasan penyebab kematian ponakan kami," ujarnya.
Kapolsek Wolio, AKP Mustafa M juga meminta kepada warga untuk menahan diri dan memberi kesempatan kepada aparat kepollisian untuk melakukan penyelidikan serta mengusut tuntas kasus tewasnya Azan. Hingga Jumat pukul 16.00 Wita, sudah 14 saksi yang diinterogasi oleh pihak kepolisian. "Tapi belum ada satu keterangan pun yang mengarah pada pelaku pembunuhan," kata AKP Mustafa M.
Setelah mendapatkan penjelasan dari pihak Polsek Wolio, warga segera membubarkan diri.

Terdakwa Kasus Talaga Divonis



KETGAM: Suasana vonis sidang kasus Talaga, di PN Baubau. Yuhandri Hardiman

BAUBAU-Sidang vonis terhadap terdakwa kasus Talaga, Agus Pranata cs dan Wa Ode Hanasia cs digelar kemarin di Pengadilan Negeri (PN) Baubau. Ketua Majelis Hakim saat memimpin sidang mengatakan para terdakwa terbukti melanggar hukum, tindak pidana pengrusakan dan pelemparan fasilitas PT Arga Morini Indah (PT AMI) saat aksi unjuk rasa.
Dari fakta persidangan, keterangan terdakwa dan barang bukti yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah memenuhi syarat hukum untuk menghukum dan menvonis para terdakwa sesuai perbuatannya. Para terdakwa dinilai telah mengganggu iklim investasi dan mengganggu usaha pertambangan terhadap perusahaan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan IUPK yang dimiliki PT AMI.
Atas dasar itu, dalam amar putusannya majelis hakim yang diketuai, Nathan Lambe SH MH didampingi hakim anggota, Sutarno SH MH dan Heri Kurniawan SH menjatuhkan vonis terhadap kelompok penghasut, Agus Pranata, Syarifuddin, Efendi AS, Tamrin, Dedy Febrianto, April dengan hukuman penjara selama 10 bulan potong masa tahanan, sementara La Jaenda, Aludiman dan Zaharuddin ST divonis 7 bulan kurungan potong masa tahanan. Selain itu, para terdakwa harus membayar biaya perkara senilai Rp 5 ribu.
Vonis 7 bulan penjara juga dijatuhkan kepada 8 orang kelompok pengrusak, Waode Hanasia, Zaomi, Laode Sukman, Julianto, Alfin, Bardin, Riston dan Rifalin Aprialin. Vonis majelis hakim terhadap 17 terdakwa tersebut lebih ringan dari tuntutan JPU, Lucky Kosasih Wijaya SH, Hijran Safar SH dan Nizar Febriansya SH yang menuntut para terdakwa 1,6 Tahun penjara.
Atas vonis ini, JPU maupun terdakwa kelompok penghasut, Agus Pranata cs menyatakan pikir-pikir, sementara kelompok pengrusak, Waode Hanasia cs menyatakan menerima putusan majelis hakim.
Sidang vonis kasus Talaga, Jumat (08/10) sangat berbeda dengan sidang-sidang sebelumnya. Pada sidang-sidang sebelumnya kerap diwarnai aksi demo maupun keributan di Kantor PN Baubau. Kemarin, para terdakwa baik kelompok penghasut yang didominasi aktivis maupun kelompok pengrusak yang mayoritas warga Talaga terlihat tenang mengikuti jalannya persidangan meskipun tanpa didampingi kuasa hukum Sadikin SH.(yuhandri)

Pegawai Kelurahan Sulaa Ditemukan Tewas

BAUBAU-Azan Syah Daud (25) pegawai Kelurahan Sulaa, Kecamatan Betoambari ditemukan tewas bersimbah darah dengan posisi badan terlentang di ruas jalan poros Betoambari. Dia pertamakali ditemukan oleh seorang tukang ojek, La Ode Adam.
Mayat Azan ditemukan pukul 04.20 Wita dengan posisi kepala membujur ke barat. Terdapat sejumlah luka di bagian kepala, di antaranya retak di bagian belakang akibat benturan benda tumpul, luka menganga seperti sayatan di leher kanan hingga telinga, luka di wajah dan mata serta beberapa gigi tanggal.
Kapolsek Wolio, AKP Mustafa M, menjelaskan sejauh ini pihaknya masih tahap pengembangan karena belum ada motiv yang jelas. Namun sejauh ini sudah mengumpulkan dan melakukan interogasi kepada sejumlah saksi, di antaranya La Ode Adam, Sawal, Rahmat, dan Mustafa.
"Kita belum bisa menentukan secara pasti dibunuh atau kecelakaan. Kita masih terus melakukan pengembangan," tambah Kanit Intel Polsek Wolio, Ipda Abdul Halim Kaonga. Untuk kepastian dibunuh atau kecelakaan, pihak kepolisian masih menunggu hasil visum dokter.
Azan, Putra Almarhum Hamiru Daud merupakan lulusan IPDN dua tahun lalu dan kini bekerja sebagai pegawai Kelurahan Sulaa dengan jabatan Kasi Pemerintahan. Jenazahnya rencananya akan dikebumikan hari Jumat 08/10) karena menunggu ibu kandungnya yang sedang berada di Jakarta. Amatan Ozzon Radio di rumah duka di Jl Betoambari tak jauh dari Depot Pertamina, dipadati kerabat yang sedang melayat.
Informasi yang diperoleh dari Aco warga Lorong Hoga, korban ditemukan oleh salah seorang ibu yang hendak shalat subuh. Penuturan lain dari karyawan salah satu kafe di Kelurahan Sulaa, inisial EL, korban sempat masuk cafe. Di sekitar korban ditemukan dua buah balok.(dna)

Pemuda Labalawa Ditemukan Gantung Diri



KETGAM: Ibu korban dan beberapa saudaranya sedang sedih

BAUBAU-SULTRA-RENDRAHOTSPOT.BLOGGER.COM - Jumadin (18) warga Kelurahan Labalawa, Kecamatan Murhum ditemukan tergantung dengan leher terlilit seutas tali yang diikatkan pada sebuah gelagar rumahnya, Jumat petang (07/10) pukul 18.00 Wita. Saat ditemukan oleh Yanti saudara sepupunya, pria tanggung dengan nama panggilan La patu ini, sudah tak bernyawa.
Aparat Polsek Wolio dipimpin Kanit Reskrim, Ipda Abdul Halim Kaonga tiba di TKP setelah mandapat laporan dari Ketua RT. Ketika itu La Patu sudah terlepas dari tali ikatannya dan dibaringkan di lantai.
Mengetahui La Patu gantung diri setelah dipanggil untuk menyalakan lampu tembok tidak menyahut. Yanti segera mengintip dan mendobrak pintu kamar yang terbuat dari tripleks lalu memotong seutas tali menggunakan parang.
"Setelah tali saya potong pakai parang, saya cepat panggil mamaknya dan neneknya," jelas Yanti beberapa saat setelah sadar dari pingsannya. Saat itu juga dilakukan visum di tempat kejadian perkara (TKP) oleh salah seorang mantri setempat.
Tak satupun dari keluarga dan teman-temannya mengetahui persoalan yang sedang dialami La Patu. Namun sehari-hari La Patu bekerja sebagai buruh bangunan dan tukang ojek dan menjadi tulang punggung keluarga. Saat ini dia sedang bekerja pada bangunan rumah di sekitaran pasar ayam sentral lama.
Amatan media ini, terdapat sedikit darah mengalir dari mulutnya, terlipat dan tergigit. Berselang satu jam, Wakapolres Baubau, Kasat Reskrim, dan Kapolsek Wolio tiba di TKP. Rencananya mayat korban akan dikebumikan hari ini di Kelurahan Labalawa.(dna)

HUT Kota Baubau Bertepatan dengan Hari Jalan Sehat se-Dunia

BAUBAU-SULAWESI TENGGARA - Lomba gerak jalan memeriahkan HUT Kota Baubau 10 Oktober mendatang, bertepatan dengan hari jalan sehat sedunia. Makanya gerak jalan tersebut dirangkaikan sekaligus sebagai partisipasi terhadap dunia melibatkan pelajar sekolah dan masyarakat se-Kota Baubau.
Kabid Luar Sekolah, Muh Jusni, mengatakan jalan sehat sedunia serentak digelar di seluruh dunia sebagai upaya dunia untuk mengantisipasi pemanasan global. Sekaligus merujuk pada surat Kemenpora RI untuk menggelar jalan sehat pada 10 Oktober.
"Dengan jalan sehat sedunia, sekaligus mengajak menggerakan anggota fisik untuk pencegahan pemanasan global," katanya.
Perkembangan teknologi yang semakin maju banyak kendaraan alternatif memanjakan umat manusia. Kaitannya dengan global warming, yakni asap yang dikeluarkan knalpot kendaraan bermesin. Dengan seringnya berjalan akan mengurangi laju global warming.(dna)

Polisi Belum Temukan Bukti Pembunuhan

BAUBAU-SULAWESI TENGGARA - Aparat Polres Baubau dan Polsek Wolio belum bisa menduga apa penyebab Azan Syah Daud hingga mati mengenaskan di poros Jl Betoambari, Kamis (07/10). Meski sudah mengumpulkan 10 saksi, tak satu pun keterangan mengarah pada pembunuhan atau kecelakaan.
Wakapolres Baubau, Komisaris Polisi Bambang Irawan mengatakan pihak kepolisian masih terus melakukan pengembangan untuk mendapatkan bukti kuat. "Dari sekian keterangan saksi tak satu pun mengarah pada pembunuhan," ujarnya.
Kapolsek Wolio, AKP Mustafa M mengatakan hal senada. Menurutnya belum ada titik terang mengenai kasus terbunuhnya Azan. Di hari pertama pihak Polsek Wolio telah menginterogasi empat saksi. Di hari kedua ketambahan 6 saksi dan menyusul beberapa saksi baru. "Namun belum ada titik terang," tandasnya.
Ketua Pemuda Pelajar Mahasiswa Kaledupa sekaligus keluarga korban, Abdul Rahman, mendukung kerja keras aparat kepolisian untuk mengungkap kasus terbunuhnya Azan syah. "Tapi saya juga berharap agar kasus ini cepat menemui titik terang," tandasnya.(dna)

Kamis, 07 Oktober 2010

Pencurian Anting-Anting Marak di SD

Dinas Pendidikan Baubau Tak Dapat Informasi

DINAS Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Baubau, Sulawesi Tenggara tak pernah mendapat informasi mengenai maraknya aksi pencurian anting-anting dengan sejumlah korban pelajar kelas 1 di beberapa sekolah dasar.
Kabid Pendidikan Luar Sekolah, Muh Jusni menyayangkan pencurian anting-anting terhadap sejumlah pelajar SD. Dia juga mengaku kaget baru mengetahui kejadian itu dan menyesalkan sampai sekarang tidak mendapatkan laporan dari pihak sekolah yang siswanya menjadi korban penggasakan maling.
"Saya kaget, seharusnya kan kepala sekolah melaporkan ke dinas mengenai kejadian itu," ujarnya.
Secara hukum kasus tersebut merupakan gawean pihak kepolisian. Namun sebagai instansi yang berada di atasnya, pihak dinas harus mendapatkan laporan agar bisa melakukan langkah prefentif untuk pencegahan.
"Kalau kami tahu ada kejadian seperti itu kan kami bisa mengeluarkan surat himbauan kepada seluruh sekolah untuk mewaspadainya, sekaligus mengeluarkan larangan mengenakan perhiasan emas saat pergi ke sekolah," jelasnya.
Dia tetap mengharap partisipatif pihak sekolah korban agar bisa dilakukan langkah tepat untuk melakukan pencegahan.(dna)

Benteng Kesultanan Buton berusia
empat abad masih berdiri kokoh.
Bangunan ini adalah simbol kewibawaan Kesultanan Buton masa lalu. Dan barangkali bangunan termegah dan termahal di zamannya.